*"Ode untuk Alat Ukur"*
_oleh: Pak Ali_
(Bait 1)
Di dunia ini, angka bertebaran,
Dari suhu panas hingga berat badan.
Mengukur itu penting, janganlah lupakan,
Agar informasi akurat didapatkan.
(Bait 2)
Akurasi itu soal tepat sasaran,
Seperti melempar dart, kena di tengah papan.
Presisi itu soal konsistensi, kawan,
Lempar berkali-kali, hasilnya berdekatan.
(Bait 3)
Kalibrasi itu penting, janganlah ragu,
Menyetel alat ukur, agar selalu jitu.
Dari standar nasional, patokan yang berlaku,
Agar pengukuran kita, tak lagi keliru.
(Bait 4)
Keandalan itu soal jangka panjang,
Alat ukur awet, tak mudah karang.
MTBF tinggi, pertanda alat hebat,
Kerusakan jarang, hati pun mantap.
(Bait 5)
Sensitivitas itu soal kepekaan,
Terhadap perubahan kecil, ia berikan jawaban.
Seperti indra perasa, sangatlah awas,
Perubahan sekecil apapun, langsung terdeteksi tuntas.
(Bait 6)
Dari sensor yang peka, menangkap informasi,
Hingga tampilan data, mudah dipahami.
Sistem pengukuran bekerja dengan presisi,
Membantu kita memahami realitas ini.
(Bait 7)
Jadi, wahai alat ukur, jasamu sungguh besar,
Membantu sains dan teknologi terus berputar.
Dari pengukuran sederhana hingga yang kompleks dan sukar,
Engkau hadir, memberi data dengan akurat dan benar.
Penjelasan:
Puisi ini mencoba merangkum beberapa poin penting dari materi pengukuran:
*Akurasi dan Presisi* : Dibahas di bait 2, menekankan perbedaan antara keduanya. Analogi lempar dart digunakan untuk mempermudah pemahaman.
*Kalibrasi* : Dibahas di bait 3, menekankan pentingnya kalibrasi untuk menjaga akurasi alat ukur.
*Keandalan* : Dibahas di bait 4, menekankan pentingnya alat ukur yang awet dan jarang rusak. MTBF (Mean Time Between Failures) juga disinggung.
*Sensitivitas* : Dibahas di bait 5, menekankan kemampuan alat ukur untuk mendeteksi perubahan kecil.
*Sistem Pengukuran secara Keseluruhan* : Dibahas di bait 6, merangkum bagaimana sistem pengukuran bekerja dari sensor hingga tampilan data.
*Apresiasi terhadap Alat Ukur* : Bait 7 merupakan bentuk apresiasi terhadap pentingnya alat ukur dalam berbagai bidang.
